Laksamana Melaka Naik Haji

Februari 14, 2020

Hikyat Hang Tuah ialah sebuah karya melayu lama yang ditulis di johor pada akhir abad ke-17, hikayat itu sebuah cerita yang sangat epik yang menceritakan kelebihan dan keistimawaan seorang tokoh dengan segala bakat dan kesaktianya, namun isinya sebagain sebab otentik karena toko tersebut, hang tuah, memang penah hidup di melaka pada abad ke -15, dan ebagian pengalaman dan petualanganya dalam hikayat itu bersumber pada peristiwa yang betul-betul terjadi pada masa itu.
Diceritakan antara lai bahwa hang tuah (disebut “laksamana”) naik haji pada waktu diutus ke istanbul oleh sultan melaka dengan tugas membeli meriam. Dalam perjalanan itu, hang tuah memimpin sebuah aramada sebesar 42 kapal dan 1.600 orang. Waktu berlayar di depan pelabuhan jeddah, hang tua mendengar dari seorang mualim kapal bahwa makam siti hawa tidak jauh dari kota itu. Maka dia memutuskan untuk berziarah ke makam tersebut karena “hendak mengambil berkatnya”. kapalnya bernama mendam berahi berlabuh di jedah, dan hang tuah disambut dengan hormat oleh syahbandar setempat, lalu oleh gubernur, malik rasal. Pada masa itu konon syarif mekkah di sebut raja mekkah adalah syarif ahmad bin zainul abidin, sedangkan raja madinah adalah saudaranya, syarif baharuddin, kedua duanya dibawah kekuasaan sultan rum. Berbagai keterangan ini tidak jelas aslnya dan tidak sesuai dengan fakta sejarah, karena syarif mekkah pada waktu itu adalah muhammad ibn barakat (mem.1455-1495, lih gaury 1951:108,290), yang berada di bawah kekuasaan sultan mesir, qaitbay dari daulah mamalik (mekkah baru akan di kuasai oleh turki osmani, waktu turki menaklukan mesir tahun 1517).
Bulan zulhijah sudah dekat, malik rasal mengajak hang tuah agar naik haji bersama-sama. Demikianlah tokoh melaka yang tersohor itu naik haji secara tidak sengaja, karena singgah di jeddah dan diajak ikut. Ini cukup mengherankan, tetapi sebenarnya sesuai dengan nada keseluruhan hikayat itu yang sifat islamnya sangat dangkal. Hang tuah melawat ke negri non islam, seperti majapahit, siam dan tiongkok, sebagaimana dia mengunjungi negri islam, seeprti terangganu, mesir dan istanbul. Di setiap negri itu, agama setempat hampir tidak diperhatikannya. Di malaka pun, hal ihwal agama tidak di sebut”. ketika hang tuah berdoa kepada Allah supaya di perkenakan mencapai sebuah pulau, dan selanjutnya melarang awak kapalnya mengambil apa saja di pulai tersebut sebelum mengucapkan surat fatihah (HHT:342), hal ini mengherankan karena begitu berbeda dengan sikap Hang Tuah pada umumnya. Dalam hal Hang Tuah naik haji, semua ritus dilaksanakannya, dia berziarah ke segala makam keramat yang ada, tetapi pengalaman rohaninya tidak diungkapkan sama sekali. Dan sepulangnya ke Melaka, Sri Sultan bertanya tentang Rum, bukan tentang haji dan Tanah Suci.

Di tengah jalan antara Jeddah dan Mekkah, Hang Tuah berjumpa dengan Nabi Khidir, yang memberikannya sebuah cembul. Berkat cembul itu, Hang Tuah menguasai segala bahasa manusia. Hang Tuah sebetulnya sudah pernah bertemu dengan Nabi Khidir ketika berlayar ke India. Para wali Nusantara seringkali mempunyai penaliankhusus denganseorang nabi. Syekh Muhammad Samman umpamanya akrab dengan Nabi Ibrahim, sedangkan Syekh Yusuf alMakasan' akrab dengan Nabi Khidir. Apakah Hang Tuah dilukiskan di sini seperti seorang wali yang benalian khusus dengan seorang nabi? Jelas tidak Kalau diperhatikan mngsi kedua pertemuan Hang Tuah dengan Nabi Khidir tersebut, dan kalau diingat bahwa Sultan Melaka pun berjumpa dengan nabi itu, maka nyatalah adegan itu hanya menandai kebesaran jiwa tokoh Hans Tuah. Malah boleh diperkirakan bahwa munculnya Nahi Khidir dalam HMY“ Hang Tuah adalah hasil pengaruh dari Hikayat Iskandar Zulkarnain.

Mengherankan pula bahwa kisah naik haji itu dinyatakan tanggal“)…

yaitu 9 Zulhijah 886, bertepatan dengan 29 Januari 1482. lni ratu untunyl tanggal yang tercantum dalam seluruh hikayat tersebut, dan itu pula buktl bahwa kisah itu sebenarnya disalin dari sebuah naskah lain. (layu fasal iu1 pun berbeda dengan gaya keseluruhan hikayatnya, lebih padat. faktual dan bersahaja. Bahwa sebuah kisah yang sama sekali asing pada riwayat hidup Hang Tuah dapat diselipkan ke dalam hikayatnya bukan hal luar biasa. Hikayat Hang Tuah temyata berisi dua fasal lagi yang disalin dari sumber lain, kedua! duanya tentang deskripsi kota Istanbul: satu dipetik dari Sulalal aI-Salatlm satu lagi dari Rustan aI-Salarin, yaitu dua teks Melayu bersifat sejarah yang ditulis beberapa waktu sebelumnya, pada awal abad ke-171.

Perbedaan gaya antara kisah naik haji ini dan keseluruhan hikayatnya telah diamati oleh Shelly Errington (1975) dan Matheson & Milner (1984), dan berusaha ditafsirkan oleh mereka. Menurut Errington (seperti dikutip oleh Matheson & Milner 1984:101 !) kisah ini merupakan suatu keterputusan dalam Hikayat karena menengarai sebuah tahap kesadaran baru dalam pemikiran politik Melaka, di mana Sultan Melaka mengakui adanya otoritas lain daripadanya sendiri atas agama Islam. Matheson & Milner (1984:11-13) menyangkal tafsiran ini. Buat mereka, kisah ini hanya peristiwa kecil yang malah diperkecil lagi dalam narasinya sambil disesuaikan dengan sudut pandang Melaka, yakni dimelayukan. Artinya, buat ketiga penulis tersebut, kisah naik haji itu nyata (Hang Tuah benar-benar pemah naik haji) dan diceritakan dengan gaya tersendiri, mungkin karena menunjukkan pembaharuan dalam sikap kerajaan Melaka (Errington), mungkin pula karena bertentangan dengan ideologi Melaka (Matheson & Milner).

Saya kira kedua tafsiran ini dua kali salah. Pertama, karena gaya adegan ini yang sangat khas ditambah penyebutan suatu angka tahun (satu-satunya dalam seluruh teks itu) membuktikan bahwa adegan tersebut tidak ditulis oleh pengarang HikayarHang Tuah, melainkan dikutip dari suatu teks lain”. Kedua, karena keganjilan adegan ini tidak disebabkan pertentangan dengan haluan politik kerajaan, seolah-olah mau diremehkan oleh pengarangnya sendiri, melainkan sebaliknya sengaja ditambah oleh pengarang karena terasa perlu. Kita tidak tahu persis kapan, oleh siapa dan dalam kondisi mana Hikayat Hang Tuah dikarang, apakah misalnya mulai dengan beberapa anekdote tentang
[17:19, 2/14/2020] Sholahud: hang Tuah yang kemudian bertambahtambah dan akhirnya disatukan dal katu narasi bergaya hikayat, namun kita dapat memperkirakan bahwa hikayat Itu berkembang dari waktu ke waktu. Seperti dikatakan di atas, agama Islam tampil dalam hikayatnya dengan sangat dangkal. Perkiraan saya, pada W lahap justru dianggap terlalu dangkal dan patut ditambahi adegan yang “'1: Islam. Pada saat itulah, adegan naik haji dipetik dari teks lain dan diselipkan dalam hikayatnya, sambil disesuaikan dengan tokohnya.

Singkatnya, pada hemat saya, Hang Tuah tidak pernah naik haji, dn adegan yang bersangkutan ditambah pada Hikayat Hang Tuah dengan tuju… memperkuat sifat Islam hikayat itu. Ada beberapa bukti yang mendukung tafsiran ini. Pertama, waktu Hang Tuah dikisahkan naik haji, tahun 1482, Sultan Melaka secara terbuka mengambil sikap anti-haji: orang Melayu, katanya, tidak perlu naik haji karena Mekkah yang sebenarnya berada di Melaka(liha1 Pendahuluan di atas). Kedua, ketika Hang Tuah pulang ke Melaka, Sultan tidak ingin tahu tentang pengalaman berhaji itu, ia tidak bertanya dan Hang Tuah tidak menceritakannya. Ketiga, terdapat dua kerancuan dalam kisah naik haji Hang Tuah (padahal teksnya sangat pendek): Laksamana “ziarah pula pada makam Ibrahim” (kata makam salah diartikan sebagai kuburan, padahal menunjukkan batu pijakan Nabi Ibrahim selama pembangunan Ka‘bah) dan ia “mencium batu yang bernama Hajar al-aswad” di dalam Ka‘bah. Kedua kekeliruan itu tentu saja dapat disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh seorang atau malah beberapa orang penyalin berturut-turut, tetapi lebih besar kemungkinan kiranya bahwa teks adegan tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab oleh seseorang yang tidak mengenal Masjidil Haram.

Kita tidak mungkin mengetahui apakah sumber tentang kisah Hang Tuah naik haji, asalnya dalam bahasa Arab atau bahasa Melayu. Kalau Arab berarti fasal dalam Hikayat Hang Tuah hanya saduran saj a, namun disesuaikan dengan figur Hang Tuah dan ditambah atau dikurangi seperlunya, misalnya ditambah adegan pertemuan dengan Nabi Khidir. Sedangkan kalau asalnya Melayu. berarti kita mempunyai kesaksian seorang Melaka naik haji pada tahun I482 itu, tiga puluh tahun sebelum kota itu jatuh ke tangan Portugis. Bagaimanapll1 juga, ada beberapa hal yang menarik perhatian dalam kisah tersebut. Hang Tuah tinggal beberapa hari di Mekkah. dia “pergi ziarah segala kubur syal:ll dan wali Allah nabi, segenap tempat ziarah itu semuanya dikerjakan”, map! dia seolah-olah tidak masuk Masjidil-Haram, tidak melakukan tawaf, tidak melakukan sa’i, langsung berangkat ke Arafat begitu saja.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images